Minggu, 27 Mei 2018

Sandiaga Ajak Erick dan Puan Bereskan Soal Kuda Asian Games 2018

Reporter:
Editor:

Ariandono

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi mengunjungi Pelatnas berkuda (equestrian) di Arthayasa Stable, Limo, Kota Depok, 6 Mei 2018. Biro Pers Setpres

    Presiden Jokowi mengunjungi Pelatnas berkuda (equestrian) di Arthayasa Stable, Limo, Kota Depok, 6 Mei 2018. Biro Pers Setpres

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno meminta bantuan Ketua Panitia Pelaksana Asian Games 2018 (Inasgoc) Erick Thohir dan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani membereskan masalah terkait dengan kuda-kuda untuk Asian Games. Menurut Sandiaga, kuda-kuda non-Uni Eropa mendadak tak bisa masuk ke Indonesia karena persoalan sertifikasi.

    "Ini agak serius, makanya saya mau ajak Bu Puan dan Pak Erick minggu depan main kuda-kudaan di equestrian," kata Sandiaga di Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta Pusat, Ahad, 13 Mei 2018.

    Baca: Asian Games 2018: OCA Senang dengan Persiapan Indonesia

    Pemerintah DKI telah mengantongi sertifikasi area bebas penyakit Equine Disease Free Zone (EDFZ) dari Organisasi Kesehatan Hewan Dunia atau Office International des Epizooties (OIE). Namun, pekan lalu, Sandiaga mendapat kabar bahwa kuda-kuda yang datang dari negara non-Uni Eropa memerlukan sertifikasi dan karantina khusus.

    Sandiaga menuturkan keterlibatan Puan dan Erick krusial untuk segera membereskan persoalan itu. Sebab, perhelatan Asian Games 2018 kurang dari seratus hari lagi.

    "Kami akan berkoordinasi soal bagaimana mengantisipasi, sehingga kuda-kuda yang datang bukan dari Uni Eropa bisa masuk tanpa melanggar zona yang sudah ditetapkan EDFZ," ujar Sandiaga soal masalah yang dihadapi cabang equestrian menjelang Asian Games 2018.

    BUDIARTI UTAMI PUTRI


     

     

    Lihat Juga

     

    Selengkapnya
    Grafis

    Dua Pendaki Mahasiswi Univesitas Parahyangan Gapai Seven Summits

    Pada 17 Mei 2018, dua mahasiswi Universitas Parahyangan, Bandung, Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari, menyelesaikan Seven Summits.