Anggar Asian Games: Diah Permatasari Ingin Tebus Kegagalan 2010

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Atlet anggar Indonsia, Diah Permatasari. (Antara)

    Atlet anggar Indonsia, Diah Permatasari. (Antara)

    TEMPO.CO, Jakarta - Atlet anggar Indonesia, Diah Permatasari, mematok target pribadi untuk bisa meraih medali Asian Games 2018. Misi itu ia tetapkan pribadi meski induk olahraga raga anggar (PB IKASI) tak memberi target khsusu buatnya.

    Diah mengakui, kekuatan atlet Indonesia memang belum diperhitungkan di kancah tingkat Asia. Namun Diah ia siap berjuang maksimal dan berusaha mewujudkan prestasi terbaik demi bangsa dan negara.

    Baca: Asian Games 2018: Tak Ditargetkan Emas, Anggar Latihan di Korea

    "Kalau pelatih harapannya bisa tembus delapan besar, tapi saya sendiri punya harapan harus bisa lebih dari itu minimal bisa masuk babak semifinal," kata wanita kelahiran 29 September 1991 di Kota Probolinggo, Jawa Timur tersebut.

    Diah mengaku bahwa ajang Asian Games 2018 ini bukan untuk yang pertama kali dia jalani. Sebelumnya putri pasangan Sayedi dan Saha itu sudah pernah bertarung di ajang Asian Games 2010 di Cina. "Saat itu saya hanya bisa bertahan hingga babak 16 besar, dan gagal masuk dalam zona medali," papar Diah.

    Bahkan, Diah juga sempat mencicipi perhelatan Olimpiade 2012 di London, Inggris, meski dia harus pulang di babak awal.

    Baca: Demi Asian Games 2018, Zulfikar Tak Bisa Tunggui Kelahiran Putra

    Selain atlet dari Singapura dan Cina, Pegawai BKD SDM Kabupaten Probolinggo itu mengakui kualitas atlet dari Korea Sslatan sebagai rival yang berat dan patut diperhitungkan.

    "Ada atlet Korea Selatan namanya Kim Juan, dia merupakan juara Olimpiade Rio de Jenairo, Brasil 2016, dia merupakan lawan yang paling berat di Asian Games tahun ini," kata Diah.

    Segudang prestasi tingkat nasional dan internasional pernah disandang oleh Diah Permatasari di cabang olahraga anggar, prestasi terbaiknya di ajang SEA Games 2011 yakni dengan satu emas dan satu perak pada nomor sabel putri.

    Kiprahnya di olahraga anggar, menurut penuturan Diah awalnya bermula dari kejadian yang tidak disengaja. Saat masih duduk di kelas 3 SMP sekitar tahun 2005 mendapat tawaran teman omnya yang sering bermain di rumahnya.

    "Teman om saya itu yakni Om Fatolla kebetulan memang pelatih anggar dan menawari saya untuk berlatih anggar," katanya.

    Berawal dari latihan yang ala kadarnya, akhirnya Diah mengaku senang dan serius menggeluti olahraga anggar. "Tahun 2005 pertama kali saya ikut kejurnas dan langsung juara satu, dan sampai sekarang saya masih memegang gelar juara bertahan nasional untuk nomor sabel," tegas Diah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.