Selasa, 18 Desember 2018

Dheva Anrimusthi, Penentu Emas Pertama di Asian Para Games 2018

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim bulu tangkis putra menyanyikan lagu Indonesia Raya saat pengalungan medali emas pertama bagi Indonesia dalam Asian Para Games 2018 di Stadion Istora Senayan, Jakarta, Ahad, 7 Oktober 2018. TEMPO/Amston Probel.

    Tim bulu tangkis putra menyanyikan lagu Indonesia Raya saat pengalungan medali emas pertama bagi Indonesia dalam Asian Para Games 2018 di Stadion Istora Senayan, Jakarta, Ahad, 7 Oktober 2018. TEMPO/Amston Probel.

    TEMPO.CO, Jakarta - Dheva Anrimusthi menjadi salah satu penentu keberhasilan Indonesia meraih medali emas pertama di ajang Asian Para Games 2018 dari cabang bulu tangkis. Dalam partai final di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Ahad, ia mengalahkan pemain Malaysia, Muhammad Faris Ahmad Azri, dengan skor 21-6, 21-12.

    Dheva memastikan skor jadi 2-1 untuk kemenangan Indonesia. Sebelumnya, Fredy Setiawan yang mengalahkan Muhammad Nurhilmie 21-6, 21-12 dan pasangan Hafizh Briliansyah Prawiranegara/Hary Susanto takluk dari Cheah Liek Hou/Hoirul Fozi Saaba dengan skor 10-21, 17-21.

    Dheva senang bisa menjadi penentu. "Kalau tegang sih pasti ada gitu ya, karena saya pingin benar-benar ngasih yang terbaik buat Indonesia. Blank aja gitu, tapi disadarin sama ofisial tim, akhirnya bisa balik lagi," kata dia selepas pertandingan.

    Dheva awalnya menekuni bulu tangkis sebagai atlet normal. Ia bergabung dengan sejumlah klub termasuk Chandra Wijaya International Badminton Center sebelum hijrah ke klub Sangkuriang Graha Sarana (SGS) PLN Bandung.

    Sayangnya, langkah Dheva di bulu tangkis menemui kerikil tajam ketika putra kelahiran Kuningan itu mengalami kecelakaan tunggal yang membuat cedera tangan kanannya, tangan yang selama ini ia ayunkan untuk menepok kok.

    "Kecelakaan tunggal sepeda motor, di Kuningan. Jalan biasa saja sebetulnya, maklum anak muda," kata Dheva mengenang kejadian tersebut. "Pas kecelakaan awalnya diagnosa di rumah sakit pertama biasa saja, tidak ada yang patah, tapi nggak tahu kenapa tangannya jadi begini. Kayaknya memang salah penanganan di awal."

    Kecelakaan itu memupus mimpi Dheva untuk membangun karier bulu tangkis, hingga ia menggantungkan raketnya sepanjang tiga tahun lamanya. Selama absen dari lapangan, Dheva hanya menjalani kehidupan sebagai pelajar pada umumnya. Jauh dari raket, jauh dari kok.

    Orang tua diakui Dheva menjadi salah satu pihak yang pertama kali menawari untuk mencoba karier sebagai atlet penyandang disabilitas. "Pasti orang tua prihatin ya, mereka sempat menawarkan mau mencoba di paralimpik tidak. Saya memang sempat ada keinginan, tapi mungkin dari pihak orang tua ada rasa prihatin karena dulu saya ikut di bulu tangkis reguler," katanya.

    Dheva pun terpacu. "Dari situ saya kepikir nggak mau ngerepotin orang tua, barang kali saya di sini kalau mencoba bisa jadi juara," kata dia.

    Pada Maret 2016, beberapa bulan menjelang berlangsungnya Pekan Paralimpik Nasional 2016 di Bandung, Jawa Barat, Dheva ditawari untuk memperkuat tim tuan rumah. "Tiga tahun vakum adaptasi memang perlu ya, dari nyari feeling di lapangan, kemudian mukulnya juga awal kadang-kadang masih kagok," kata dia.

    Namun kebulatan tekad dan semangat serta teknik-teknik dasar bulu tangkis yang sempat dipelajarinua mengantarkan Dheva terpilih memperkuat Jawa Barat di Peparnas 2016. Di ajang atlet penyandang disabilitas nasional itu, Dheva sukses meraih emas dalam nomor ganda putra Low 3 bersama Hafizh Briliansyah Prawiranegara.

    Sejak itu, Dheva dilirik oleh Komite Paralimpiade Nasional (NPC) Indonesia untuk membela Merah Putih di tingkat yang lebih tinggi. Tepat pada Januari 2017, Dheva diboyong ke markas NPC Indonesia di Surakarta, Jawa Tengah, untuk mempersiapkan diri mengikuti ASEAN Para Games 2017.

    Di Kuala Lumpur, Malaysia, Dheva meraih satu medali emas dan satu perunggu. Untuk perunggu diraih Dheva setelah terhenti di semifinal nomor SU5, sedangkan emas dikantongi Dheva dari nomor ganda putra SU5 kembali berpasangan dengan Hafizh dalam sebuah All-Indonesian Final mengalahkan pasangan Indonesia lainnya Suryo Nugroho/Oddie Kurnia Dwi Listyanto.

    Tiga tahun mungkin waktu yang cukup lama untuk absen dari olahraga kecintaannya, namun pilihan Dheva untuk berani kembali menggenggam raket dan mengayunkannya memukul kok yang melayang-layang di udara membawa pemuda kelahiran 5 Desember 1998 itu membawanya berkalung medali demi medali. "Memang dari kecil saya pingin jadi juara, entah bagaimana caranya. Mungkin jalan saya di sini," kata Dheva.

    Usai meraih emas perdana Indonesia lewat bulu tangkis nomor beregu putra Asian Para Games ini, Dheva kini akan kembali turun ke lapangan dan mengayunkan raketnya bersaing di dua nomor perorangan yakni tunggal putra SU5 serta ganda putra SU5 melanjutkan kemitraan bertabur emas yang tengah dipupuknya bersama Hafizh dalam tiga tahun terakhir.


     

     

    Lihat Juga

     


    Selengkapnya
    Grafis

    Fintech Lending, Marak Pengutang dan Pemberi Utang

    Jumlah lender dan borrower untuk layanan fintech lending secara peer to peer juga terus bertumbuh namun jumlah keduanya belum seimbang.