Selasa, 18 Desember 2018

Asian Para Games: Menpora Menghormati Keputusan Miftahul Jannah

Reporter:
Editor:

Ariandono

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pejudo putri Indonesia, Miftahul Jannah, meninggalkan arena setelah didiskualifikasi dari pertandingan kelas 52 kilogram <i>blind judo</i> Asian Para Games 2018 di Jiexpo Kemayoran, Jakarta, Senin, 8 Oktober. Pejudo asal Aceh itu didiskualifikasi karena tidak mau melepas jilbabnya saat bertanding. ANTARA/BOLA.COM/M Iqbal Ichsan

    Pejudo putri Indonesia, Miftahul Jannah, meninggalkan arena setelah didiskualifikasi dari pertandingan kelas 52 kilogram blind judo Asian Para Games 2018 di Jiexpo Kemayoran, Jakarta, Senin, 8 Oktober. Pejudo asal Aceh itu didiskualifikasi karena tidak mau melepas jilbabnya saat bertanding. ANTARA/BOLA.COM/M Iqbal Ichsan

    TEMPO.CO, Jakarta- Menteri Pemudah dan Olah Raga (Menpora) Imam Nahrawi memberikan apresiasi atas prinsip Miftahul Jannah, atlet cabang olah raga blind judo yang gagal tampil karena masalah jilbab di ajang Asian Para Games 2018, kemarin, Senin, 8 Oktober 2018 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta Utara.

    "Perlu saya sampaikan bahwa pemerintah dan kita semua menghormati keputusan yang memegang teguh prinsip dari Miftah dan perlu kita apresiasi," ujar Imam dalam konferensi pers di Main Press Center, GBK Arena, Selasa, 9 Oktober 2018. "Ini pelajaran berharga bagi NPC bahwa kedepannya harus dilihat regulasi yang ada."

    Baca: Asian Para Games 2018: Raih Emas, Syuci: Kekuatan Mental

    Miftahul terdiskualifikasi dari pertandingan judo tuna netra Asian Para Games 2018, dia dicoret karena enggan mengikuti aturan pertandingan yaitu melepas jilbab. Atlet berusia 21 tahun itu, telah menginjak matras pertandingan dan enggan melepas jilbab pada pertandingan kelas 52 kilogram.

    Menurut Imam itu adalah sesuatu yang harus dibanggakan. Dan sebelumnya, tadi malam Imam menemui Maftahul di Wisma Atlet untuk membicarakan masalah tersebut. Imam menjelaskan bahwa, Miftahul akan tetap menjadi atlet, bukan judo, kata Imam, tapi catur.

    "Saya bangga padanya dia akan tetap menjadi atlet kalaupun tidak di judo dia akan main catur dan tadi pagi saya coba, meskipun akhirnya Miftah meminta untuk resmis saja," tambah Imam. "Di olahraga itu adalah bukan cermin soal kekalahan dan kemenangan tapi respek dan penghargaan antara prinsip regulasi yang ada baik pelatih ataupun atlet untuk menjaga dirinya agar tetap nyaman menggunakan jilbabnya."

    Baca: Miftahul Jannah Terdiskualifikasi karena Jilbab, Ada Solusi Jitu

    Ke depan, kata Imam, Indonesia akan meminta kepada Federasi Judo Internasional untuk membuat regulasi yang lebih lentur dan memungkinkan para muslimah bertanding. Tapi, Imam berujar, tidak membahayakan atket saat bertanding.

    "Misalnya, jilbab yang didesain ulang, kan pernah ada beberapa di cabang olahraga lain yang memakai jilbab, judo harus memberikan itu dengan panggil desainer-desainer untuk mendesainnya," tambah Imam. "Ini juga menjadi momentum untuk merekomendasikan kepada judo internasioanal untuk mengubah regulasi khusus bagi atlet muslimah," ujar Imam lagi soal tindak lanjut kasus jilbab Miftahul Jannah di Asian Para Games 2018.


     

     

    Lihat Juga

     


    Selengkapnya
    Grafis

    Fintech Lending, Marak Pengutang dan Pemberi Utang

    Jumlah lender dan borrower untuk layanan fintech lending secara peer to peer juga terus bertumbuh namun jumlah keduanya belum seimbang.