Selasa, 18 Desember 2018

Setelah Raih Emas Asian Para Games 2018, Evi Ingin Paralimpiade

Reporter:
Editor:

Ariandono

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Atlet lompat jauh asal Indonesia, Karisma Evi Tiarani, saat berlaga dalam kategori T42-44/61-64 di Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa, 9 Oktober 2018. Kategori ini diikuti tunadaksa dengan amputasi dari lutut. TEMPO/Subekti

    Atlet lompat jauh asal Indonesia, Karisma Evi Tiarani, saat berlaga dalam kategori T42-44/61-64 di Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa, 9 Oktober 2018. Kategori ini diikuti tunadaksa dengan amputasi dari lutut. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Bagi para atlet Asian Para Games 2018, pendidikan merupakan sesuatu hal yang penting. Karisma Evi Tiarani, atlet cabang olah raga lari nomor 100 meter berhasil merebut emas, untuk meraih itu banyak pengorbanan yang dilakukan Evi.

    "Pengorbanan terbesar itu meninggalkan sekolah, jadi saya berangkat sekolah itu pas ujian saja. Banyak pelajaran yang agak tertinggal," ujar Evi saat ditemui di Venue Atletik, Komplek GBK, Senayan, Jakarta Pusat, pada Rabu, 10 Oktober 2018.

    Baca: Emas Asian Para Games, Karisma Evi Tarani: Atletik Cinta Pertama

    Evi mengaku hanya memiliki waktu sedikit untuk belajar. Karena, gadis yang tengah menempuh sekolah kelas 3 SMA itu agak kurang bisa fokus jika harus melalukan sesuatu yang bercabang. "Harus fokus satu saja," lanjut Evi. Tapi, dia mengatakan bahwa guru tetap memberikan semangat dengan apa yang dilakukan Evi.

    Evi berhasil membawa emas di cabang olah raga atletik nomor lari 100 meter kategori T47/T63 dengan catatan waktu 14,98 detik. Dan mengalahkan atlet Jepang Kaeda Maegawa yabg lebih lambat dua detik dengan catatan waktu 16,89 detik, mendapatkan perak

    Selain sekolah, Evi juga tidak banyak waktu untuk berkumpul bersama keluarga. Selama sembilan bulan proses latihan untuk persiapan Asian Para Games di Solo, dia hanya bertemu dengan Ibunya pada waktu libur saja. Namun, Evi bersyukur, karena pada saat berlaga di arena lari, ibunya hadir langsung menonton.

    "Ibu hadir, tapi sebelum bertanding belum sempat ketemu, beluk sempat ngobrol. Ibu datang sendiri, tadi bersama pelatih. Aku minta ibu datang, jadi tambah semangat," lanjut gadir kelahiran Boyolali, Jawa Tengah, pada 19 Januari 2001 itu.

    Baca: Asian Para Games 2018: Kejutan dan Tetes Air Mata Zaki Zulkarnaen

    Saat ini Evi tengah menempuh pendidikan di SMA Negeri 8 Surakarta kelas 12 IPA. Dengan modal dispensasi dari sekolah untuk berjuang membawa nama Indonesia. Gadis yang memfavoritkan mata pelajaran kimia itu memiliki cita-cita membahagiakan orang tuanya.

    Selama berlatih, Evi juga meninggalkan kakak laki-lakinya bernama Gilang, yang saat ini menjadi tumpuan keluarga dengan bekerja di perusahaan tekstil. Ayah Evi, Rianto, sebelumnya bekerja di pertambangan pasir, tapi, karena faktor usia, Ayahnya berhenti dari pekerjaannya dan ibunya, Istiqomah sebagai ibu rumah tangga.

    "Insya Allah selanjutnya ingin mengejar Paralimpiade. Pesan untuk disabilitas di luar sana, kita semua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk Indonesia walaupun ditengah keterbatasan, harus tetap melakukan yang terbaik," lanjut Evi soal keinginannya usai Asian Para Games 2018.


     

     

    Lihat Juga

     


    Selengkapnya
    Grafis

    Fintech Lending, Marak Pengutang dan Pemberi Utang

    Jumlah lender dan borrower untuk layanan fintech lending secara peer to peer juga terus bertumbuh namun jumlah keduanya belum seimbang.