Selasa, 11 Desember 2018

Pembawa Obor Olimpiade 2012 Jadi Suporter di Asian Para Games

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Atlet renang difabel Indonesia pembawa api obor Olimpiade London 2012 Stephanie Handojo bersama ibunya Maria Yustina Tjandrasi menyaksikan pertandingan renang Asian Para Games 2018 di GBK Aquatic Center, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu, 10 Oktober 2018. TEMPO/KHORY

    Atlet renang difabel Indonesia pembawa api obor Olimpiade London 2012 Stephanie Handojo bersama ibunya Maria Yustina Tjandrasi menyaksikan pertandingan renang Asian Para Games 2018 di GBK Aquatic Center, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu, 10 Oktober 2018. TEMPO/KHORY

    TEMPO.CO, Jakarta - Atlet disablitas Indonesia yang pernah membawa api obor di Olimpiade 2012 di London, Stephanie Handojo, hadir mendukung teman-temannya yang sedang bertanding di Asian Para Games 2018.

    "Ya, datang ke sini untuk mendukung atlet Indonesia, tadi habis support teman saya di cabang olah raga bowling, namanya Elsa. Kalau saya atlet renang yang pertama yang di Indonesia dapat medali emas di Special Olympic, di Athena tahun 2011, buat summer game di Athena," ujar wanita yang disapa Fani, saat menyaksikan pertandingan renang di GBK Aquatic, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu, 10 Oktober 2018.

    Baca: Raih Emas Asian Para Games, Karisma Evi Tarani: Atletik Cinta Pertama

    Fani menyaksikan pertandingan dengan didampingi ibunya Maria Yustina Tjandrasari. Wanita penyandang tuna grahita atau dengan IQ di bawah 70 itu tidak diikutsertakan dalam Asian Para Games 2018, karena, kata dia, sedang dipersiapkan untuk bertanding tahun depan.

    Anak pertama dari tiga bersaudara itu sempat berbincang dan berfoto bersama dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di tribun penonton venue renang. Dia mengungkapkan rasa senangnya saat bertemu dengan orang nomor satu di Jakarta itu.

    "Foto bareng Pak Anies ya seneng sih, sebelumnya juga pernah ketemu sama Pak Anies waktu pelepasan lomba bowling," kata Fani. Dia juga memberikan pesan kepada para atlet yang sedang bertanding supaya terus berusaha, berdoa dan tetap menjaga kesehatannya. "Biar bisa mandiri dan berprestasi," lanjut wanita 26 tahun itu.

    Baca: Asian Para Games 2018: Indonesia Raih 23 Emas, Target Terlewati

    Menurut ibunya, meskipun Fani memiliki kebutuhan khusus, Fani memiliki talenta yang luar biasa. Maria berujar bahwa saat ini Fani juga menjadi duta internasional yang bertugas untuk mensosialisasikan anak-anak penyandang tuna grahita

    "Nama organisasinya International Global Messenger (IGM). Dia terpilih untuk itu, untuk selalu menyemangati teman-temannya, untuk yang banyak orang yang belum memiliki kesempatan seperti Fani," tambah Maria. "Dia beri support, bahwa tidak ada yang tidak mungkin, harus mau menjalani dan tekun berlatih, nah disitulah nanti suatu saat pasti bisa seperti Stephanie."

    Selain menjadi pembawa obor di Olimpiade London 2012 dan peraih medali emas di Special Olympics World Summer Games di Athena 2011, Fani juga mendapat beberapa penghargaan lain seperti memecahkan Rekor MURI yakni anak berkebutuhan khusus memainkan 22 lagu secara non-stop dengan piano tahun 2009 di Semarang, Jawa tengah.

    Selain itu, kata Maria, Fani juga memperoleh penghargaan dari Menteri Sosial pada 2015 atas komitmen dan kepedulian dalam upaya perlindungan dan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas di Istana Negara, Jakarta. Stephanie Handojo juga Mendapatkan penganugerahan pahlawan untuk Indonesia kategori olah raga 2016. "Kemudian sebagai atlet berprestasi nasional 2018 dari Menpora dan Asia Ten Pin Bowling Championship di Manila 2018 peraih 1 medali Emas dan 1 medali perak," lanjut Maria.


     

     

    Lihat Juga

     


    Selengkapnya
    Grafis

    Kementerian Kominfo Memblokir Situs-Situs dengan Konten Radikal

    Kementerian Komunikasi dan Informasi telah memblokir 230 situs dan menghapus ribuan konten radikal dari berbagai platform.