Selasa, 13 November 2018

Berita Asian Games 2018 Diikuti 4,5 Miliar Orang, Ini Otaknya ...

Reporter:
Editor:

Ariandono

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ratna Irsana, Wakil Ketua Koordinator Media & Public Relations INASGOC saat mendampingi Wapres Jusuf Kalla dan Ketua INASGOC Erick Thohir meninjau Main Press Center (MPC) Asian Games 2018 di JCC Senayan, Agustus 2018. (INASGOC)

    Ratna Irsana, Wakil Ketua Koordinator Media & Public Relations INASGOC saat mendampingi Wapres Jusuf Kalla dan Ketua INASGOC Erick Thohir meninjau Main Press Center (MPC) Asian Games 2018 di JCC Senayan, Agustus 2018. (INASGOC)

    TEMPO.CO, JakartaAsian Games 2018 Jakarta Palembang sudah berakhir awal September lalu. Namun jejak-jejak kisah sukses dan keberhasilan dalam menyelenggarakan pesta olahraga bangsa Asia masih terasa hingga kini.

    Asosiasi Jurnalis Olahraga Internasional (AIPS) yang berdiri sejak 1924 dan merupakan organisasi media olahraga tertua, dalam evaluasi terhadap layanan media di Asian Games 2018 menyatakan bahwa keberadan Media Press Center di Asian Games 2018 bisa menjadi model layanan media di masa depan untuk ajang multi event olahraga dunia.

    “Desain MPC Asian Games 2018 yang double decker mengesankan tak hanya compact, tapi juga padat, karena beberapa ruang kerja kantor berita asing berseberangan dengan ruang press conference yang menariknya, berbentuk amphitheater. Jika dilihat sekilas, dengan kursi dan tempat kerja yang terbatas, wartawan tak punya banyak ruang untuk bekerja. Namun, semua tantangan itu bisa diatasi dengan makanan panas yang tanpa henti, senyuman para volunteer, dan sikap profesional para pengelola media center," begitu review yang ditulis AIPS Media.

    Baca: Papua Incar Peralatan Eks Asian Games 2018 Untuk PON 2020

    Sosok di belakang kesuksesan layanan media di Asian Games 2018 adalah Ratna Irsana. Dalam kepanitiaan Asian Games 2018 (INASGOC), perempuan kelahiran Sukabumi ini menjabat sebagai Wakil Koordinator Media & Public Relations. Dialah perancang layanan terhadap peliput Asian Games 2018 yang total berjumlah 4.925 wartawan.

    “Dari alokasi awal 3.000 meter, sebanyak 600 meter persegi diminta oleh Departemen Broadcast untuk International Broadcast Center karena kebutuhan ruang mereka juga besar. Ya sudah, karena saya orangnya baik hati meski kekurangan ruangan saya kasih ...hahaha,” ujar Nana, panggilan Ratna Irsana dengan nada bercanda saat ditemui beberapa waktu lalu.

    Dengan tersisa luas ruangan, 2.400 meter, maka double decker jadi satu-satu pilihan yang diambil. Apalagi di dalam MPC bukan hanya media yang harus ditampung. Tapi juga kantor berita asing, kantor perwakilan OCA (Dewan Olimpiade Asia), kantor berita nasional Antara, counter-counter untuk sponsor yang jumlahnya puluhan, serta service counter untuk melayani para fotografer yang jumlahnya mencapai, 1,456 fotografer.

    “Kami memiliki desainer yang mampu merancang ruang seluas 2.400 meter menjadi lebih kompak dan memenuhi semua kebutuhan, serta kontraktor yang bisa mewujudkan desain MPC sehingga kuat, nyaman, dan aman,” tambah Nana (49 tahun), ibu empat anak yang pernah menjadi koordinator strategi komunikasi Jusuf Kalla saat menjadi Cawapres Jokowi dalam Pemilu 2014.

    Baca: Piala AFF: Alasan Timnas Indonesia Didominasi Pemain Asian Games

    Dan seperti yang diketahui, layanan media yang diberikan selama Asian Games 2018 menjadi salah satu indikator sukses keseluruhan pesta olahraga Asia ini melalui publikasi. Dengan kehadiran 864 kantor berita atau media dari 44 negara Asia dan 12 negara di luar Asia, berita tentang Asian Games 2018 dinikmati oleh 4,5 miliar pembaca.

    Mereka menyerap informasi dari sekitar 16 ribu artikel yang muncul selama Asian Games 2018 berlangsung. Di dalam negeri sendiri, berita tentang Asian Games terdapat di 10.583 media online, 400 majalah, 620 televisi, dan 3.673 surat kabar.


     

     

    Lihat Juga

     


    Selengkapnya
    Grafis

    Hari Ayah, Diprakarsai Bukan oleh Para Bapak

    Setiap tanggal 12 November kita memperingati Hari Ayah yang ternyata diprakarsai bukan oleh para bapak tapi oleh Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi.