Asian Games 2018: Andalan Boling, Ryan Lalisang Belum Mau Pensiun

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ryan Leonard Lalisang atlet boling putra. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    Ryan Leonard Lalisang atlet boling putra. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Tim boling Indonesia masih akan bertumpu pada salah satu atlet seniornya, Ryan Leonard Lalisang, di Asian Games 2018. Atlet 37 tahun itu telah menjadi andalan Indonesia sejak meraih medali emas di SEA Games 2005.

    Ryan, yang telah memulai menekuni boling sejak umur 13 tahun, menyatakan belum memutuskan untuk pensiun dalam waktu dekat. “Selama masih dibutuhkan oleh negara, saya masih bersedia aja,” kata dia kepada Tempo melalui pesan WhatsApp, Senin, 5 Februari 2018.

    Ryan mengatakan menilai, peboling muda Indonesia saat ini sudah bagus. Namun, dalam hal prestasi, Ryan merasa belum ada yang menyamai. “Saya harapkan pasti nanti ada dan mungkin lebih dari (prestasi) yang saya dapatkan,” kata dia, yang juga pernah meraih emas di kejuaraan Asia 2006 dan di Asian Games 2006.

    Baca: Targetkan 1 Medali di Asian Games 2018, Boling Andalkan Nomor Tim

    Menurut Ryan, yang terpenting saat ini, potensi dan kemampuan peboling harus diasah. “Pengurus boling harus lebih memperhatikan,” kata dia.

    Ia melihat, setelah usai mengikuti turnamen internasional seperti SEA Games, para atlet hanya berlatih di dalam negeri. “Tidak pergi kemana-mana. Jadi, buat saya, banyak dari mereka yang masih minim pengalaman bertanding di luar negeri,” kata dia.

    Ryan Leonard Lalisang yang telah berkarier menjadi peboling selama lebih dari 20 tahun pun mengatakan masih ada cita-citanya yang belum tercapai saat ini. “Ingin Tour Pro Amerika dan dan Eropa, yang dari dulu belum terealisasi sampai sekarang,” ujar dia.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.