Selasa, 18 Desember 2018

Asian Para Games 2018: Kejutan dan Tetes Air Mata Zaki Zulkarnaen

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perenang Indonesia Guntur (kiri), Zaki Zulkarnain (kanan), dan perenang Cina Xu Haijiao berfoto bersama saat pengalungan medali setelah pertandingan babak final nomor 100 meter renang gaya dada putra SB8 Asian Para Games 2018 di Aquatic Center, Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa, 9 Oktober 2018. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Perenang Indonesia Guntur (kiri), Zaki Zulkarnain (kanan), dan perenang Cina Xu Haijiao berfoto bersama saat pengalungan medali setelah pertandingan babak final nomor 100 meter renang gaya dada putra SB8 Asian Para Games 2018 di Aquatic Center, Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa, 9 Oktober 2018. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Zaki Zulkarnaen meneteskan air mata setelah mendapatkan perunggu Asian Para Games 2018. Ia menempati urutan ketiga pada lomba cabang olah raga renang nomor gaya dada 100 meter dengan catatan waktu 1 menit 19 detik. Setelah selesai bertanding, Zaki langsung memeluk pelatihnya sambil meneteskan air mata.

    "Ada tisu tidak?" tanya Zaki kepada awak media yang ingin mewawancarainya di Stadion Aquatic, Komplek GBK, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa, 9 Oktober 2018. Setelah mendapatkan tisu dari awak media, Zaki langsung mengusap air matanya.

    "Saya terharu, sebenarnya tidak ditargetkan mendapat medali, jadi sangat bersyukur dan enggak nyangka, tadinya nomor empat tapi ya karena ada diskualifikasi jadi nomor 3. Saya merasa terharu lah dan seneng enggak nyangka kayak gini," kata Zaki dengan napasnya yang tersengal-sengal.

    Di nomor tersebut tercepat pertama diraih oleh atlet Cina bernama Xu Haijiao dengan torehan waktu 1 menit 11 detik. Sedangkan perak, diraih atlet asal Indonesia juga, Guntur, dengan catatan waktu 1 menit 19 detik lebih cepat dibandingkan Zaki.

    Zaki berjuang untuk masuk dalam pelatnas sejak tahun 2011, tapi, kata dia, terpanggil pelatnas baru tahun ini, 2018. Jadi, dia menambahkan, berjuang antara selama tujuh hingga delapan tahun untuk selanjutnya dipanggil pelatnas.

    "Ini event baru pertama kali saya ikut, ya mungkin lebih giat lagi berlatihnya setelah pulang dari acara ini dan jangan ada kata libur untuk latihan. Jadi latihan, latihan dan latihan sudah itu saja," tambah Zaki dengan tubuh dalam kondisi basah.

    Zaki juga menceritakan bagaimana perjuangannya dalam proses latihan yang tidak pernah mengalahkan Guntur rekan satu negaranya. Menurutnya, renang gaya dada itu tumpuannya ada di kaki dan tangan.

    "Dari dulu saya melawan Mas Guntur itu enggak pernah menang, karena kalau gaya dada itu bagi saya tumpuannya di kaki. Sedangkan saya kenanya di kaki dan tangan, jadi kalau di gaya dada itu memang enggak pernah menang melawan dia, itu mulai dari di solo latihan bersama, kami tes itu saya enggak pernah menang," kata Zaki.

    Mengakhiri perkataannya, Zaki memberikan pesan kepada teman-teman disabilitas diseluruh Indonesia dengan keterbatasan yang dimiliki. "Untuk teman-teman disabilitas diseluruh Indonesia dimanapun berada, jangan pernah menyerah karena Tuhan punya rencana untuk kita. Jadi jangan menyesali apa yang diberikan Allah kepada kita, karena kita tidak tahu rencana Tuhan selanjutnya," kata dia.

    Untuk berita Asian Para Gemas lain, simak terus di kalanl Asiangames.tempo.co.


     

     

    Lihat Juga

     


    Selengkapnya
    Grafis

    Fintech Lending, Marak Pengutang dan Pemberi Utang

    Jumlah lender dan borrower untuk layanan fintech lending secara peer to peer juga terus bertumbuh namun jumlah keduanya belum seimbang.