Selasa, 13 November 2018

Cetak Rekor Dunia Angkat Besi, Eko Yuli Dipuji Erick Thohir

Reporter:
Editor:

Ariandono

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aksi lifter Indonesia, Eko Yuli Irawan, melakukan angkatan snatch pada angkat besi kelas 62 kilogram Asian Games 2018 di JIExpo, Jakarta, Selasa, 21 Agustus 2018. Eko Yuli Irawan berhasil menambah perolehan medali emas bagi Indonesia. TEMPO/Subekti.

    Aksi lifter Indonesia, Eko Yuli Irawan, melakukan angkatan snatch pada angkat besi kelas 62 kilogram Asian Games 2018 di JIExpo, Jakarta, Selasa, 21 Agustus 2018. Eko Yuli Irawan berhasil menambah perolehan medali emas bagi Indonesia. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Lifter putra peraih medali emas Asian Games 2018 di kelas 61 kg, Eko Yuli Irawan kembali mendulang prestasi di Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2018 yang berlangsung di Ashgabat, Turkmenistan, 1-10 November.

    Bertanding di kelas spesialisasinya, Sabtu 3 November, lifter berusia 29 tahun itu meraih tiga medali emas setelah mampu mengangkat barbel di angkatan snatch dengan berat 143 kg, clean & jerk (174 kg), serta total angkatan (317 kg). Berkat prestasinya, Eko juga memecahkan dua rekor dunia di angkatan clean & jerk dan total angkatan.

    “Saya pribadi sungguh salut atas prestasi yang dihasilkan Eko Yuli Irawan. Jarang sekali, seorang lifter bisa mencapai dua kali penampilan puncak dalam waktu berdekatan. LIhat saja, Eko baru saja meraih medali emas di Asian Games, dan dalam jeda kurang lebih dua bulan, ia langsung bisa juara dunia. Itupun dengan angkatan yang lebih baik ketimbang di Asian Games 2018,” puji Erick Thohir, Ketua Panitia Pelaksana Asian Games 2018, Minggu 4 November di Jakarta.

    Baca: Eko Yuli Irawan Raih Emas dan Pecahkan Rekor Dunia Angkat Besi

    Ketika mengibarkan Merah Putih di Asian Games 2018 lalu, Eko menjadi teratas dengan angkatan 141 kg untuk snatch, 170 kg di clean & jerk, serta total angkatan 311 kg. Eko merupakan bagian dari 10 lifter Indonesia yang tengah bertanding di Ashgabat yang juga menjadi ajang kualifikasi cabang angkat besi menuju Olimpiade Tokyo 2020. Dengan sistem poin yang digunakan di kejuaraan ini untuk menentukan berapa kuota yang diperoleh setiap kontingen, maka medali emas yang dipersembahkan Eko menjadi salah satu jaminan akan dikantonginya tiket ke ajang multi event dunia tersebut.

    “Dalam kesempatan ini, saya juga mengucapkan selamat kepada pengurus PB PABBSI, di bawah komando, Rosan Roeslani yang konsisten dalam membina cabang angkat besi sebagai cabang langganan bertanding dan berprestasi di Olimpiade. Saya berharap, para lifter yang tengah berjuang di Ashgabat bisa terus mencetak prestasi, atau rangking tertinggi sehingga tiket Olimpiade makin banyak yang diraih,” tambah Erick yang juga Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) ini.

    Baca: Angkat Besi Indonesia Ikuti Pra Kualifikasi Olimpiade Tokyo 2020

    Hingga Sabtu, selain Eko, dua lifter lainnya sudah bertanding, yakni Surahmat juga di kelas 61 kg dan Yolanda Putri (49 kg/putri). Surahmat, peraih medali perunggu Asian Games 2018 di kelas 56 kg, menempati rangking 5 kategori B dengan total angkatan 278 kg (snatch/ 124 kg dan clean & jerk/154 kg), sedangkan Yolanda berada di rangking 9 kategori B dengan hasil total angkatan, 163 kg (snatch/73 kg dan clean & jerk, 90 kg).

    Tujuh lifter yang akan menyusul bertanding dalam Kejuaraan Dunia Angkat Besi di Ashgabat, yakni Deni kelas 67 kg, Triyatno dan Rahmat Erwin Abdullah kelas 73 kg di bagian putra. Sedangkan, Sri Wahyuni kelas 49 Kg, Sarah Anggraeni (55 Kg), Acchedya Jaggadhita (59 Kg), dan Nurul Akmal (+ 87 Kg) di putri.


     

     

    Lihat Juga

     


    Selengkapnya
    Grafis

    Hari Ayah, Diprakarsai Bukan oleh Para Bapak

    Setiap tanggal 12 November kita memperingati Hari Ayah yang ternyata diprakarsai bukan oleh para bapak tapi oleh Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi.